Sabtu, 28 Juli 2012

SYAFAAT BUAH CINTA AHLUL BAIT NABI

Dalam Al-Quran surat Al-Syura, Allah swt berfirman: Barangsiapa yang menginginkan keuntungan akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menginginkan keuntungan dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia. Dan tidak ada baginya suatu bagian pun dari akhirat.

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang pedih.

Kamu lihat orang-orang yang zalim sangat ketakutan karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan, sedang siksaan menimpa mereka. Dan orang-orang yang saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.


Demikianlah karunia yang dengan itu Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kecintaan kepada Al-Qurba.” Siapa yang melakukan kebaikan (dengan mencintai keluarga Rasulullah saw), akan Kami tambahkan baginya kebaikan itu. Sesung-guhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Pembalas kebaikan dengan kebaikan.

Apakah mereka sudah berkata bahwa Muhammad ini sudah berbohong mengatas-namakan Allah (padahal hanya untuk kepentingan keluarganya). Kalau Allah kehendaki Dia dapat mengunci mati hatinya; dan Allah menghapuskan yang batil dan membenarkan yang hak dengan kalimat-kalimat-Nya (Al-Quran). Sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala isi hati. (QS. Al-Syura 20-24)

Dalam kitab tafsir Mîzân, mufassir Sayyid ‘Allamah Thabathaba’i menerangkan ayat-ayat ini sebagai berikut: Ketika Allah menjelaskan bahwa Dia menurunkan Al-Kitab dengan kebenaran dan untuk menegakkan keadilan, Al-Quran meng-gambarkan adanya orang-orang yang tidak mau menerima kitab ini sebagai pedoman hidup mereka sehingga mereka berada dalam kesesatan. Setelah itu Allah menyuruh Rasulullah untuk menyampaikan kepada umatnya agar selain berpegang kepada Al-Kitab, mereka juga harus berpegang kepada kecintaan kecintaan keluarga Nabi saw.

Dalam ayat 22 surat Al-Syura di atas, disebutkan bahwa orang-orang yang zalim akan ketakutan melihat amal kejahatan yang mereka lakukan. Menurut ‘Allamah Thabathaba’i, inilah dalil yang menyatakan bahwa amal-amal yang kita lakukan di dunia akan dapat kita lihat di akhirat.


Cinta Yang Mendatangkan Syafa’at


Para ahli tafsir menerangkan satu konsep yang disebut dengan nama Berwujudnya Amal-Amal Kita. Konsep ini berarti bahwa amal-amal yang kita lakukan di dunia akan diberikan wujud oleh Allah swt sehingga dapat kita lihat di akhirat. Al-Quran menyebutkan hal itu dalam surat Al-Kahfi ayat 49: ...Mereka menemukan apa yang mereka amalkan itu hadir di depan mereka. Juga dalam surat Al-Zalzalah ayat 6: Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.

Sebuah hadis Nabi saw, yang diriwayat-kan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Al-Rûh, menceritakan apa yang akan terjadi ketika kita meninggal dunia. Waktu itu para sahabat sedang berada di sekitar pemakaman. Rasulullah saw datang menemui mereka. Lalu Rasulullah bercerita: Apabila seorang mukmin meninggal dunia, sejauh-jauh penglihatan akan terdapat para malaikat (yang menjemput jenazah mukmin itu). Para malaikat itu berbaris sementara malaikat maut duduk dekat kepala si Mukmin dan berkata, ”Hai ruh yang indah, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridaan-Nya.”

Ruh itu keluar dari jasadnya dengan amat mudah seperti keluarnya tetesan air dari wadahnya. Malaikat maut mengambil ruh itu dan tidak melepaskan dari tangannya sekejap mata pun. Dari ruh itu keluar bau semerbak yang memenuhi seluruh alam malakut.

Ketika ruh jenazah itu lewat, para malaikat bertanya, ”Siapakah ruh ini?” Malaikat maut menjawab, ”Inilah ruh Fulan bin Fulan.” Dibawalah ia ke langit untuk menghadap Allah swt dan diterima oleh Allah dengan segala keridaan-Nya. Kemudian ia dikembalikan lagi ke alam barzakh.

Saat itu datang malaikat yang bertanya, “Siapa Tuhanmu dan siapa yang diutus untuk datang kepadamu?” Ia menjawab, “Tuhanku adalah Allah dan utusan yang datang kepadaku adalah Rasulullah.” Malaikat melanjutkan pertanyaannya, “Dari mana kau tahu tentang Rasulullah?” Ia menjawab, “Aku mengetahuinya dari Al-Kitab, aku beriman dan mencintainya.” Mendengar jawab hamba Allah yang saleh itu terdengarlah suara keras dari langit.

Rasulullah melanjutkan ceritanya: Namun apabila seorang kafir atau ahli maksiat meninggal dunia, turunlah malaikat ke bumi dengan wajah yang menakutkan. Malaikat maut duduk di samping kepalanya dan berkata, ”Hai jiwa yang kotor, keluarlah kamu menuju kemurkaan Allah dan azab-Nya.”

Betapa susah ruh itu keluar dari jasadnya, sampai-sampai seluruh tubuhnya seakan-akan pecah berkeping-keping. Ketika malaikat memegang ruh orang kafir itu, bau menyengat seperti bangkai keluar dari ruh itu memenuhi seluruh alam malakut.

Para malaikat bertanya, “Siapakah ruh yang busuk itu?” Disebutlah ia dengan nama yang paling jelek yang ia peroleh di dunia ini. Ia dibawa ke langit tetapi pintu-pintu langit tertutup rapat baginya. Jenazahnya dilemparkan ke bumi.

Ketika malaikat mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya, ia tak sanggup menjawab pertanyaan itu dengan baik. Maka disempitkanlah kuburannya sesempit-sempitnya. Setelah itu datanglah makhluk yang wajahnya sangat menakutkan dengan bau yang sangat menjijikkan. Ruh kafir itu bertanya, “Siapakah engkau?” Makhluk itu menjawab, ”Akulah amal burukmu dan aku akan menemanimu sejak barzakh sampai mahsyar nanti.”

Selain hadis Nabi di atas, sebuah kisah sufi juga menceritakan tentang berwujudnya amal saleh dan amal buruk di akhirat kelak. Alkisah, seorang tokoh sufi bernama Malik bin Dinar pada mulanya adalah seorang ahli maksiat. Waktu itu pekerjaannya setiap hari ialah mabuk minuman keras.

Suatu saat ia ditanya oleh seseorang, ”Apa yang menyebabkan kamu kembali kepada jalan yang benar?” Malik bin Dinar menjawab dengan cerita, ”Dahulu aku mempunyai anak perempuan yang amat aku sayangi. Setiap hari pekerjaanku meminum arak. Dan setiap saat aku hendak meminum arak, tangan anakku selalu menepiskan minuman itu; seolah-olah ia melarang aku untuk meminumnya. Sampai suatu saat anakku meninggal dunia.

“Aku berduka luar biasa. Dalam keadaan duka aku tertidur dan bermimpi seakan-akan aku berada di padang Mahsyar. Aku seperti berada di tengah-tengah orang yang kebingungan. Dalam keadaan bingung itu, aku melihat sosok seekor ular yang sangat besar. Ular itu bergerak dan mengejarku. Aku lari menghindar. Di tengah jalan, aku berjumpa dengan seorang tua yang berwajah amat jernih. Aku berhenti di samping orang tua itu dan meminta kepadanya perlindungan.

“Orang tua itu jatuh iba kepadaku. Sambil menangis ia berkata, ‘Aku ingin sekali menolongmu tetapi aku terlalu lemah.’ Karena rasa takut yang mencekam segera aku pergi dari sisi orang tua itu dan sampailah aku pada tepian neraka jahanam. Hampir saja aku loncat ke dalamnya karena ketakutan. Tetapi saat itu aku mendengar suara, Tempatmu bukan di sana. Dalam keadaan lemah aku berlari mendekati orang tua tadi untuk meminta pertolongannya lagi, tapi ia hanya menjawab, ‘Aku tak bisa menolongmu karena aku terlalu lemah. Berangkatlah ke bukit Amanah, mungkin di sana ada titipan buatmu.’

“Aku berangkat menuju tempat itu, di sana aku bertemu dengan banyak anak kecil yang berwajah sangat indah. Tiba-tiba aku melihat anakku sendiri, ia mendekatiku dan memegang tanganku seraya berkata, ‘Inilah bapakku.’ Lalu dengan tangannya yang lain dia mengusir ular besar itu.

“Kemudian anak itu berkata, ’Apakah belum datang kepada orang beriman untuk takut kepada Allah?’ Aku bertanya kepadanya, ’Apakah kamu bisa membaca Al-Quran?’ Anakku menjawab, ’Pengetahuanku tentang Al-Quran di sini lebih baik daripada pengetahuan bapak.’ Aku menanyakan padanya perihal orang tua yang berwajah jernih. Ia menjawab, ’Dia adalah amal saleh yang setiap hari bapak lakukan. Karena amal saleh bapak sedikit, amal itu menjadi lemah dan tidak sanggup membantu bapak.’ Aku bertanya lagi, ‘Lalu siapakah ular itu?’ Anakku menjawab, ’Itulah maksiat yang setiap hari bapak perkuat tenaganya karena dosa yang bapak lakukan.’

“Sejak itu, kalau aku berbuat maksiat aku selalu ingat bahwa hal itu akan memperkuat ular berbisa yang menakutkan. Dan setiap kali aku lelah dalam beramal saleh, aku ingat bahwa hal itu akan memperlemah amal salehku.”

Cerita Malik bin Dinar itu sesuai dengan hadis yang menunjukkan bahwa amal-amal kita akan hadir di hadapan kita. Percayalah, kita akan di temani dua makhluk, makhluk yang baik dan buruk. Keduanya akan bertarung di alam barzakh. Kalau makhluk yang baik itu menang, terusirlah makhluk yang buruk dan kita akan ditemani di alam barzakh oleh makhluk yang baik. Sebaliknya, amal jelek pun bisa mengusir amal yang baik.

Kita semua percaya bahwa amal saleh yang kita lakukan jauh lebih sedikit daripada amal salah yang sering kita perbuat. Oleh sebab itu, kita bisa menduga bahwa di alam barzakh nanti yang paling banyak menemani kita adalah amal buruk kita. Malang betul kita semua, bila di alam barzakh itu kita hanya mengandalkan amal saleh yang kita lakukan. Oleh karena itu, karena kasih-Nya kepada kita, Allah swt memberi wewenang kepada Rasulullah saw untuk memberi syafa’at. Alangkah bahagianya kita di alam barzakh nanti ketika makhluk yang menakutkan berdesakan mengelilingi kita dan amal baik sudah terusir dari kita, lalu datanglah syafa’at Rasulullah saw. Dan makhluk jelek itu pun tersingkir sehingga kita hanya ditemani oleh amal saleh kita sampai hari akhir.

Tidak ada kebahagiaan yang paling besar selain memperoleh syafa’at Rasulullah saw. Lalu, kepada siapakah syafa’at Rasulullah itu diberikan? Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, ”Syafa’atku aku khususkan kepada dia yang mencintai keluargaku diantara umatku.” Mudah-mudahan kita memperoleh syafaat Rasulullah saw dengan wasilah kecintaan kita kepada keluarganya. (lihat kitab Tarikh Bakdad al-Khatib Al-Baghdadi juz II).

Siapa saja keluarga Nabi saw yang harus kita cintai? Al-Zamakhsyari meriwayatkan sebuah hadis tentang hal ini; ketika Rasulullah saw membaca ayat, Aku tidak meminta upah darimu kecuali kecintaan kepada Al-Qurba. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulallah, siapa Al-Qurba yang harus kita cintai itu? Rasulullah bersabda, ”Ali, Fathimah, dan kedua anaknya.”

Orang tua kita terdahulu tahu bahwa kecintaan kepada Ali, Fathimah, dan kedua putranya bisa memadamkan bencana; terutama bencana di alam kubur. Mereka juga percaya bahwa hal itu bisa memadamkan bencana yang terjadi pada saat sekarang. Oleh karena itu, kalau ada bala bencana di sebuah kampung, mereka sering membaca syair:

Lî khamsatun uthfi bihâ

haral wabâ il khâthimah

Al-Musthafâ wal Murtadhâ

wabnahumâ wal Fâthimah

Aku persembahkan yang lima kepada

Allah

Untuk padamkan panasnya bencana yang mengerikan

Yaitu Al-Musthafa (Rasulullah saw), Al-

Murtadha (Sayidina Ali),

kedua putranya (Hasan dan Husain),

serta Fathimah


Al-Fakhrurrazi, dalam kitabnya Mafâtihul Ghaib, menyebutkan,”Sudah teguhlah dalil bahwa yang empat orang itu adalah keluarga Nabi saw. Dan apabila sudah teguh dalil itu, sudah pastilah mereka yang dikhususkan untuk kita muliakan dengan kemuliaan yang lebih dari manusia yang biasa.”

Ada beberapa dalil mengapa kita harus mencintai ahlul bait Nabi. Pertama, adalah dalil ayat mawaddah lil qurbâ di atas (QS. Al-Syura:23). Kedua, tidak diragukan lagi bahwa Nabi saw sangat mencintai keluarganya. Rasulullah saw bersabda, “Fathimah adalah belahan jiwaku, sebagian dari diriku, siapa yang menyakiti Fathimah, ia menyakitiku.” Rasulullah juga mencintai Ali dan kedua cucunya; Hasan dan Husain. Karena sudah teguh keadaannya, wajiblah bagi umatnya untuk meniru Rasulullah saw. Artinya, karena Rasulullah mencintai mereka, wajiblah kita mencintai mereka. Allah berfirman, Katakanlah: Hai manusia sesunguhnya aku aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan selain Dia. Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya. Dan ikutilah dia supaya kamu mendapat petunjuk.(QS. Al-Araf: 158 ) Ketiga, dalam tasyahud, ketika salat, kita harus membaca shalawat kepada Muhammad dan keluarganya. Hal ini merupakan suatu kehormatan yang tidak diberikan selain kepada keluarga Nabi Muhammad saw. Semuanya itu, menurut Al-Fakhrurrazi, menunjukkan bahwa kecintaan kepada Muhammad dan keluiarganya adalah sesuatu yang wajib bagi kita semua.

Al-Fakhrurrazi mengutip ucapan Imam Syafi’i, ”Jika rafidhi itu berarti mencintai keluarga Muhammad, maka hendaklah seluruh jin dan manusia menyaksikan bahwa aku ini adalah rafidhi.”

Hadis tentang Buah Cinta Kepada Ahlul Bait


Bentuk kecintaan kepada Nabi saw dan keluarganya diantaranya diwujudkan dengan membaca shalawat kepadanya. Berikut hadis tentang fadhilah shalawat kepada Nabi saw dan keluarganya.


Seseorang bertanya kepada Aba Abdillah as tentang firman Allah swt, Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, ber-shalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. Al-Ahzab: 56). Aba Abdillah as berkata, ”Shalawat dari Allah swt kepada Nabi adalah rahmat-Nya, dari malaikat adalah pensuciannya, dan dari manusia adalah doanya.” Orang itu lalu bertanya lagi, ”Bagaimana kami mengucapkan salam penghormatan kepada Nabi dan keluarganya?” Aba Abdillah berkata, ”Katakanlah: ‘Shalawâtullâhi wa shalawâtu malâ’ikatihî wa an biyâihî wa rasûlihî wa jamî’i khalqihî ’ala Muhammadin wa âli Muhammad wasallâmu ‘alaihi wa âlihi wa rahmatulâhi wa barakâtuh.’” Orang itu bertanya lagi, “Apa balasan orang yang membacakan shalawat kepada Nabi saw?“ Imam yang mulia menjawab, “Dikeluarkan dari dosa-dosanya, demi Allah, sama seperti ketika ibunya melahirkan dia.”