Senin, 24 September 2012

AHLALBAYTH MUHAMMAD SAWW & ILMU PENGETAHUAN


BISMILLAH

BI HAQQI MUHAMMAD WA AALI MUHAMMAD





DIALOQ IMAM JA’FAR as dengan MURIDNYA


Jabir bin Hayyan adalah salah satu siswa dari imam Ja'far Asshadiq as (cucu generasi ke-5 dri nabi muhammad saww lewat imam husseyn as). Ia dikenal di Barat sebagai 'Geber'.

Jaber belajar dari Imam Shadiq (as) dan kemudian menjadi ilmuwan islam terkemuka. Beliau yang lebih populer disebut sebagai 'bapak kimia'. Nama Aljabar juga merupakan turunan dari nama Jaber.



"SEGALA SESUATU ITU BERGERAK"

Jabir bin Hayyan adalah murid yang senang berdiskusi dengan gurunya.
Suatu hari ketika Imam sedang mengajar filsafat, Imam mengatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini bergerak.

Jaber bertanya: "Apakah Anda yakin bahwa segala sesuatu di alam semesta ini bergerak?"

"Ya saya yakin." Jawab Imam Shadiq.

Jaber bertanya: "Apakah suara memiliki gerak?"

Imam berkata: "Ya, Namun kecepatan suara lebih lambat daripada kecepatan cahaya. Jika anda melihat dari kejauhan kereta luncur dari pandai besi yang jatuh di landasan dan mendengar suara sesudahnya. Hal ini karena gelombang cahaya, yang berjalan lebih cepat, mencapai mata Anda terlebih dahulu kemudian gelombang suara bergerak lambat setelah itu. "

Jaber bertanya: "Bisakah Anda menceritakan kecepatan suara?"

Imam Shadiq menjawab: "Archimedes, filsuf Yunani, yang mengukur kecepatan suara, mengatakan bahwa jika seorang laki-laki adalah 400 Zira (1 Zira = 40 inci) dari sumber suara, ia akan mendengar hal itu setelah 8 detik. Semakin besar jarak, semakin lama waktu yang diperlukan untuk mendengarnya. "



"ALLAH ADA DIMANA-MANA"

Jaber berkata: "Menurut teori Archmides akan mengambil ribuan tahun untuk para nabi untuk mendengar suara Allah, yang berada di sisi lain dari langit ke-7."

Imam menjawab: "Wahai Jabir, Allah ber Firman bahwa Ia berada di luar langit ke-7 tuk memberikan kesan kepada orang-orang biasa atas Keagungan Allah, jika tidak, Dia di mana-mana. Ketika ia ingin berbicara dengan nabi-nabi, Dia begitu dekat sehingga terdengar suara-Nya langsung dan jelas. "

Imam berkata: "Bahkan jika DIA berada di luar langit ke-7 para nabi-Nya pasti akan segera mendengar-Nya, karena Suaranya tidak seperti suara makhluk-Nya. Allah, yang menciptakan alam semesta hanya dengan mengatakan 'Kun Fa Ya Kun' tidak punya masalah berkomunikasi dengan nabi-Nya. "

"Semesta Dibuat Dalam 6 Tahapan"

Jaber bertanya: "Apakah alam semesta diciptakan dalam sekejap? Dikatakan bahwa itu diciptakan dalam 6 hari. "

Imam Shadiq menjawab: "Alam semesta ini diciptakan, tetapi berubah menjadi bentuk yang sekarang dalam waktu yang sangat lama. Pada awalnya hal itu pasti tidak seperti sekarang ini. 6 hari Allah, disebutkan dalam Quran, tidak seperti 6 hari kita. Alam semesta datang ke dalam bentuk yang sekarang dalam 6 tahap atau 6 periode. "

Jaber bertanya: "Ketika Anda mengatakan bahwa Allah di mana-mana, itu berarti bahwa Dia adalah dalam segala hal. Oleh karena itu, mereka yang mengatakan bahwa Allah dan ciptaan-Nya adalah satu, benar? Dengan kata lain, jika kita percaya bahwa Dia adalah segalanya, kita harus mengakui bahwa setiap tanaman, hewan, batu dan bintang adalah Allah. "

Imam berkata: "Kau salah. Allah dalam tanaman, hewan, batu dan bintang-bintang, tetapi mereka BUKAN Allah. Sama seperti minyak dan sumbu ada di lampu untuk menghasilkan cahaya, tetapi mereka bukan lampu. "

"Tidak Seorang Pun memiliki Kekuatan seperti Allah"


Jaber bertanya: "Jika benar bahwa segala sesuatu adalah Allah, maka segala sesuatu harus memiliki kekuatan Allah. Dapatkah mereka yang mengklaim bahwa segala sesuatu adalah Allah menghasilkan hanya dengan mengatakan, "Jadilah", bahkan satu butir pasir atau menciptakan dari setetes cairan manusia? "

Pembahasan kemudian pindah.

Imam Ja'far ash Shadiq berkata: "Wahai Jabir, apakah Anda melihat gambar di dinding? gmbar ini digambar dengan baik dengan garis(bentuk) geometris yang indah. Anda mendapatkan kesenangan dari memandanginya. Bukan karena Anda memiliki pengetahuan tentang matematika dan mengerti tentang geometri. Bahkan seorang anak-anakpun akan senang melihatnya. "

Jaber mengerti dan berkata "Kebanyakan orang tidak memahami kebenaran prinsip-prinsip agama dan kita tidak tahu bahwa mereka adalah sempurna. Itu sebabnya saya membujuk mereka untuk mendidik diri mereka sendiri, dan meningkatkan pengetahuan mereka. "

Kemudian Jaber bertanya: "Apakah tidak lebih baik jika alasan di balik prinsip-prinsip Islam itu dijelaskan dalam istilah-istilah sederhana?"

Imam menjawab: "Para ilmuwan dan filsuf harus membuktikan teori mereka dengan akal dan logika sehingga mereka dapat diterima oleh para ilmuwan dan filsuf lain."

"Mereka tidak peduli dengan orang-orang biasa, yang tidak dapat dan tidak akan memahaminya."

Imam melanjutkan : "Akan tetapi, agama adalah berbeda dari ilmu pengetahuan dan filsafat. Doktrin-doktrin agama kita yang disampaikan dalam istilah yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh semua orang. Tapi itu tidak menjelaskan mengapa mereka dikirim. "

"Allah telah memilih Nabi kita untuk menyebarkan Islam di antara semua orang. Itu semua tidak hanya dikirim untuk kaum intelektual, melainkan juga yang tidak akan mngerti dan menerima apa-apa, yang tidak perlu dibuktikan dengan logika. "
"Nabi kami mengungkapkan doktrin-doktrin agama sehingga dapat dipahami oleh semua, tetapi ia tidak memberikan alasan mengapa mereka kemudian dipaksakan sebagai rakyat biasa dan mereka tidak akan mengerti."

"Mereka yang punya otak bisa mencari tahu sendiri mengapa prinsip-prinsip tesis dirumuskan. Tapi perkembangan otak tergantung pada perolehan pengetahuan. Jadi, mereka yang ingin memahami alasan di balik prinsip-prinsip Islam perlu memperoleh pengetahuan karena ini akan mengembangkan otak mereka."

"Tetapi orang-orang yang tidak bisa memahami mereka, harus percaya pada mereka dan mengikuti mereka dengan setia. Yang akan cukup untuk keselamatan mereka. "

"Hal ini membutuhkan tekad kuat dan kerja keras untuk memperoleh pengetahuan yang memadai dalam rangka untuk mengetahui kebutuhan serta untuk mengikuti aturan Islam."

"Kebanyakan orang tidak mampu untuk itu. Mereka harus bekerja, mencari nafkah dan dukungan keluarga mereka. Dengan demikian mereka dapat melakukan sendiri dalam perdagangan dan pertanian dan hanya belajar fundamental dan peraturan sekunder Islam. "

Imam berkata: "konsep surga dan neraka sangat susah bagi orang yang buta huruf."
"Jika Anda mencoba menjelaskan kepadanya apa yang Anda mengerti dengan istilah-istilah, Anda akan membingungkan dia dan membuat imannya tergoncang. Itu mengapa lebih baik untuk berbicara dengan orang sesuai dengan kecerdasan kita."



"ALI BIN ABI THALIB MENCIPTAKAN TATA BAHASA ARAB"

"Ketika Al-Quran itu dikirim, ada kemungkinan bahwa orang-orang umum mungkin salah paham dalam memaknai ayat-ayat Nya jika mereka tidak membacanya dengan benar. Itulah sebabnya kakekku, Ali bin Abi Thalib menciptakan tata bahasa Arab. "

Jaber berkata: "Sayang sekali bahwa banyak orang tidak memahami tujuan, kebutuhan dan keharusan untuk mengikuti ajaran-ajaran Islam dan tidak mengerti makna yang lebih dalam ayat-ayat Alquran."

Imam Ja'far ash Shadiq berkata: "Ini adalah kasus dalam setiap agama. Hanya sejumlah orang mengerti dengan baik hukum-hukum agama mereka. Orang-orang ini menjadi pemimpin agama dan sisanya harus mematuhi mereka. "

"Agama Islam juga sama. Hanya segelintir orang yang memahami Al Qur'an. Mereka adalah para pemimpin (imam) kaum muslimin. "



"PINTU ILMU"

Mengenai ayat mutashabihat, Allah swt dalam QS 3:7 mengatakan:
"Dan tidak ada yang mengetahui maknanya, kecuali Allah dan mereka yang berakar kuat dalam pengetahuan"

Mereka tidak lain adalah Nabi Muhammad SAWW dan para Ahlul Bait as.

Hal ini diriwayatkan bahwa Imam Shadiq berkata: "Kami adalah rasikhuna fil ilm dan kami tahu Ta'wil." [Tafsir Nur Tsaqalain]

"Quran dan Ahlul Bait"


* Dalam Hadis terkenal Tsaqalain, Nabi saww berkata: "Barang siapa yang tetap terikat pada Al-Quran dan Ahlul Bait tidak akan tersesat karena kedua hal tersebut tidak akan pernah dapat dipisahkan satu sama lain sampai mereka menemuiku di telaga Kautsar."

Dan: "Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintu gerbang. Allah swt mengatakan bahwa kita harus masuk ke rumah melalui pintu gerbang. Jadi siapa pun yang ingin mencari pengetahuan harus datang melalui pintunya."

Demikian percakapan antara Imam Shadiq dan muridnya Jabir berakhir..


{"Maghze Mutafakkir Jehan Shia" buku berbahasa persia atau buku berbahasa inggris "The Great Muslim Scientist and Philosopher - Imam Jafar Ibn Mohammed As-Sadiq (a.s.)"}




TENTANG PENCIPTAAN

Imam Ja'far As Shadiq (sa) berkata bahwa Nabi SAWW bersabda :

"Sesungguhnya dibalik matahari terdapat 40 matahari yang didalamnya terdapat Makhluq yang banyak, dan sesungguhnya dibalik Bulan terdapat 40 bulan yang didalamnya terdapat makhluq yang banyak yang tidak mengetahui apakah Allah SWT menciptakan Adam atau tidak”

Para Ilmuwan abad ini hanya mampu mengatakan :

“Dalam galaxi kita terdapat sekitar seratus lima puluh juta bintang tetap,sebagian diantaranya mirip matahari kita,oleh karenanya tidak ada bukti yang mendukung keyakinan bahwa Planet Bumi ini adalah satu-satunya planet yg memiliki kekhususan kekhususan”

Alam raya ini tidaklah dapat dibayangkan betapa luasnya,mereka yang menggunakan AKALnya mempelajari hanya mampu memperkirakan luasnya dengan ukuran jutaan tahun cahaya,satu tahun cahaya sama dengan 10 trilyun KM dan sampai dengan saat ini manusia hanya mampu mencapai pengetahuan tentang JARAK paling jauh puluhan bilyun tahun cahaya.

Dengan keterbatasan jarak pada puluhan bilyun tahun cahaya ilmuwan menemukan banyak sekali super gugus galaxi yang jumlahnya tak TERHITUNG.Bumi dan sekian banyak bintang yang kita saksikan kilaunya berada dalam galaxi bima sakti hanya bisa di ibaratkan:

” SEBUTIR KACANG TANAH DI TENGAH SAMUDERA BEBAS”


Pada tahun 1929, di observatorium Mount Wilson di California, seorang astronom Amerika bernama Edwin Hubble membuat salah satu temuan terpenting dalam sejarah astronomi. Ketika tengah mengamati bintang dengan teleskop raksasa, dia menemukan bahwa cahaya yang dipancarkan bintang-bintang bergeser ke ujung merah spektrum. Ia pun menemukan bahwa pergeseran ini terlihat lebih jelas jika bintangnya lebih jauh dari bumi. Temuan ini menggemparkan dunia ilmu pengetahuan. Berdasarkan hukum-hukum fisika yang diakui, spektrum sinar cahaya yang bergerak mendekati titik pengamatan akan cenderung ungu, sementara sinar cahaya yang bergerak menjauhi titik pengamatan akan cenderung merah. Pengamatan Hubble menunjukkan bahwa cahaya dari bintang-bintang cenderung ke arah warna merah. Ini berarti bahwa bintang-bintang tersebut senantiasa bergerak menjauhi kita.


Tidak lama sesudah itu, Hubble membuat temuan penting lainnya:

"Bintang dan galaksi bukan hanya bergerak menjauhi kita, namun juga saling menjauhi. Satu-satunya kesimpulan yang dapat dibuat tentang alam semesta yang semua isinya bergerak saling menjauhi adalah bahwa alam semesta itu senantiasa memuai.

Agar lebih mudah dimengerti, bayangkan alam semesta seperti permukaan balon yang tengah ditiup. Sama seperti titik-titik pada permukaan balon akan saling menjauhi karena balonnya mengembang, benda-benda di angkasa saling menjauhi karena alam semesta terus memuai. Sebenarnya, fakta ini sudah pernah ditemukan secara teoretis. Albert Einstein, salah seorang ilmuwan termasyhur abad ini, ketika mengerjakan Teori Relativitas Umum, pada mulanya menyimpulkan bahwa persamaan yang dibuatnya menunjukkan bahwa alam semesta tidak mungkin statis. Namun, dia mengubah persamaan tersebut, dengan menambahkan sebuah "konstanta" untuk menghasilkan model alam semesta yang statis, karena hal ini merupakan ide yang dominan saat itu. Di kemudian hari Einstein menyebut perbuatannya itu sebagai "kesalahan terbesar dalam kariernya".

Jadi, apakah pentingnya fakta pemuaian alam semesta ini terhadap keberadaan alam semesta?


Pemuaian alam semesta secara tidak langsung menyatakan bahwa alam semesta bermula dari satu titik tunggal. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa "satu titik tunggal" yang mengandung semua materi alam semesta ini pastilah memiliki "volume nol" dan "kepadatan tak terbatas". Alam semesta tercipta akibat meledaknya titik tunggal yang memiliki volume nol tersebut. Ledakan hebat yang menandakan awal terbentuknya alam semesta ini dinamakan Ledakan Besar (Big Bang), dan teori ini dinamai mengikuti nama ledakan tersebut.

Harus dikatakan di sini bahwa "volume nol" adalah istilah teoretis yang bertujuan deskriptif. Ilmu pengetahuan hanya mampu mendefinisikan konsep "ketiadaan", yang melampaui batas pemahaman manusia, dengan menyatakan titik tunggal tersebut sebagai "titik yang memiliki volume nol". Sebenarnya, "titik yang tidak memiliki volume" ini berarti "ketiadaan". Alam semesta muncul dari ketiadaan. Dengan kata lain, alam semesta diciptakan.


Fakta ini, yang baru ditemukan oleh fisika modern pada akhir abad ini, telah diberitakan Al Quran empat belas abad yang lalu melalui Puncak RahmatNYA bagi Semesta :


"Dia Pencipta langit dan bumi."

(QS. Al An'am:101)


Jika kita membandingkan pernyataan pada ayat di atas dengan teori Ledakan Besar, terlihat kesamaan yang sangat jelas. Namun, teori ini baru diperkenalkan sebagai teori ilmiah pada abad ke-20.

Pemuaian alam semesta merupakan salah satu bukti terpenting bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan. Meskipun fakta di atas baru ditemukan pada abad ke-20, Allah telah memberitahukan kenyataan ini kepada kita dalam Al Quran 1.400 tahun yang lalu:

"Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa."

(Surat Adz-Dzariyat:47)

FIRMAN NYA SWT:

"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah."

(QS. Al Mulk: 3-4)




MANUSIA

Terbentuk dari pertemuan sperma dan indung telur, sperma disebut air yang hina begitu Allah SWT menyebutnya,yg berjumlah rata2 TIGA RATUS JUTA benih dan hanya 15 - 50 benih yg mampu bertahan mencapai Indung telur dan hanya SATU SEL yang BERHASIL membuahi ( umum ), lalu membentuk zigot, membelah dan menempel pada dinding2 rahim, sel telur yg sangat amat kecil di ciptakanNYA memiliki PENJAGAAN dengan reaksi kimiawi hingga mampu MENCEGAH sel sperma lain memasukinya , dan jika sel telur yang dibuahi MEMBELAH maka ketika itu KEMBAR identik tercipta.......



BAHKAN KETIKA MASIH BERBENTUK SEL PUN PENJAGAAN-NYA TAK PERNAH LENGAH........


Setelah melalui sekian banyak proses dan terbentuk sebagai janin maka Allah SWT memberikan Ruh , tercipta dengan Izin dan kehendakNYA sebagai manusia dengansegala keistimewaannya, jarak yang termat jauh antara SATU SPERMA dari kumpulan jutaan benih dengan hasilnya kini yakni manusia yang merupakan ciptaanNYA SANG MAHA SEMPURNA..dilengkapi olehNYA SWT dengan segala macam system tubuh yang saling bekerja sama dan saling berkomunikasi, masing2 di beri tugas KHUSUS dalam KENDALI RUH, ada system rangka yang menunjang tubuh melindungi organ bagian dalam , ada system otot yang dengannya terjadi pergerakan baik disadari ataupun tidak, ada syetem syaraf yang bertugas mengirim signal ke Otak , system pernafasan , pencernaan dan pembuangan.


Tidakkah diperhatikan betapa semua tampak bekerja selaras dalam SATU KERAJAAN BESAR YANG BERNAMA TUBUH dan RUH adalah RAJA nya, seringkali dinamai HATI , AKAL, BATIN........



Semua sytem dalam tubuh terbentuk dari kumpulan jaringan jaringan, pada setiap jaringan merupakan KUMPULAN DARI SEL SEL yang SAMA untuk satu FUNGSI tertentu.Tubuh seorang manusia dewasa terdiri lebih dari 50 Trilyun sel dan setiap MENIT 3 MILYARD SEL MATI dan secara menakjubkan kebanyakan di GANTI DENGAN SEL SEL YANG BARU, Betapa MAHA BESAR ALLAH SWT yang KEBESARAN-NYA BAHKAN ADA dalam HAL yang seringkali kita anggap KECIL.



Imam Ali (as) telah menyinggung hal ini 14 Abad yang lalu dengan mengatakan :

"TUBUHMU HARI INI BUKANLAH TUBUHMU YANG KEMARIN "





PENUTUP



Nabi Muhammad SAWW bersabda :

"Siapakah yang menyembunyikan JANTUNG dalam rongga dada lalu menutupnya dengan JUBAH dan membentenginya dengan daging juga tulang Rusuk hingga hal2 yg MEMATIKAN dari luar takkan menyentuhnya ? Ketahuilah bahwa dalam JANTUNG ada rongga yg mengarah kesebuah lubang yg menghubungkannya dengan jantung hingga jikalau seandainya Lubang2 itu berbenturan dan salah satunya menghalangi yang lainnya maka UDARA takkan sampai kejantung dan MATILAH manusia itu"

Rabu, 12 September 2012

Kisah Ali ra dan Fatimah ra





Sitti Fatimah Azzahra r.a. mencapai puncak keremajaannya dan kecantikannya pada saat risalah yang dibawakan Nabi Muhammad s.a.w. sudah maju dengan pesat di Madinah dan sekitarnya. Ketika itu Sitti Fatimah Azzahra r.a. benar-benar telah menjadi remaja puteri.
Keelokan parasnya banyak menarik perhatian. Tidak sedikit pria terhormat yang menggantungkan harapan ingin mempersunting puteri Rasul Allah s.a.w. itu. Beberapa orang terkemuka dari kaum Muhajirin dan Anshar telah berusaha melamarnya. Menanggapi lamaran itu, Nabi Muhammad s.a.w. mengemukakan, bahwa beliau sedang menantikan datangnya petunjuk dari Allah s.w.t. mengenai puterinya itu.
Pada suatu hari Abu Bakar Ash Shiddiq r.a., Umar Ibnul Khatab r.a. dan Sa'ad bin Mu'adz bersama-sama Rasul Allah s.a.w. duduk dalam mesjid beliau. Pada kesempatan itu diperbincangkan antara lain persoalan puteri Rasul Allah s.a.w. Saat itu beliau bertanya kepada Abu Bakar Ash Shiddiq r.a.: "Apakah engkau bersedia menyampaikan persoalan Fatimah itu kepada Ali bin Abi Thalib?"

Abu Bakar Ash Shiddiq menyatakan kesediaanya. Ia beranjak untuk menghubungi Imam Ali r.a. Sewaktu Imam Ali r.a. melihat datangnya Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. dengan tergopoh-gopoh dan terperanjat ia menyambutnya, kemudian bertanya: "Anda datang membawa berita apa?"
Setelah duduk beristirahat sejenak, Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. segera menjelaskan persoalannya: "Hai Ali, engkau adalah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mempunyai keutamaan lebih dibanding dengan orang lain. Semua sifat utama ada pada dirimu. Demikian pula engkau adalah kerabat Rasul Allah s.a.w. Beberapa orang sahabat terkemuka telah menyampaikan lamaran kepada beliau untuk dapat mempersunting puteri beliau. Lamaran itu oleh beliau semuanya ditolak. Beliau mengemukakan, bahwa persoalan puterinya diserahkan kepada Allah s.w.t. Akan tetapi, hai Ali, apa sebab hingga sekarang engkau belum pernah menyebut-nyebut puteri beliau itu dan mengapa engkau tidak melamar untuk dirimu sendiri? Kuharap semoga Allah dan Rasul-Nya akan menahan puteri itu untukmu."
Mendengar perkataan Abu Bakar r.a. mata Imam Ali r.a. berlinang-linang. Menanggapi kata-kata itu, Imam Ali r.a. berkata: "Hai Abu Bakar, anda telah membuat hatiku goncang yang semulanya tenang. Anda telah mengingatkan sesuatu yang sudah kulupakan. Demi Allah, aku memang menghendaki Fatimah, tetapi yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku ialah karena aku tidak mempunyai apa-apa."
Abu Bakar r.a. terharu mendengar jawaban Imam Ali yang memelas itu. Untuk membesarkan dan menguatkan hati Imam Ali r.a., Abu Bakar r.a. berkata: "Hai Ali, janganlah engkau berkata seperti itu. Bagi Allah dan Rasul-Nya dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat debu bertaburan belaka!"
Setelah berlangsung dialog seperlunya, Abu Bakar r.a. berhasil mendorong keberanian Imam Ali r.a. untuk melamar puteri Rasul Allah s.a.w.

Beberapa waktu kemudian, Imam Ali r.a. datang menghadap Rasul Allah s.a.w. yang ketika itu sedang berada di tempat kediaman Ummu Salmah. Mendengar pintu diketuk orang, Ummu Salmah bertanya kepada Rasul Allah s.a.w.: "Siapakah yang mengetuk pintu?" Rasul Allah s.a.w. menjawab: "Bangunlah dan bukakan pintu baginya. Dia orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, dan ia pun mencintai Allah dan Rasul-Nya!"
Jawaban Nabi Muhammad s.a.w. itu belum memuaskan Ummu Salmah r.a. Ia bertanya lagi: "Ya, tetapi siapakah dia itu?"
"Dia saudaraku, orang kesayanganku!" jawab Nabi Muhammad s.a.w.
Tercantum dalam banyak riwayat, bahwa Ummu Salmah di kemudian hari mengisahkan pengalamannya sendiri mengenai kunjungan Imam Ali r.a. kepada Nabi Muhammad s.a.w. itu: "Aku berdiri cepat-cepat menuju ke pintu, sampai kakiku terantuk-antuk. Setelah pintu kubuka, ternyata orang yang datang itu ialah Ali bin Abi Thalib. Aku lalu kembali ke tempat semula. Ia masuk, kemudian mengucapkan salam dan dijawab oleh Rasul Allah s.a.w. Ia dipersilakan duduk di depan beliau. Ali bin Abi Thalib menundukkan kepala, seolah-olah mempunyai maksud, tetapi malu hendak mengutarakannya.
Rasul Allah mendahului berkata: "Hai Ali nampaknya engkau mempunyai suatu keperluan. Katakanlah apa yang ada dalam fikiranmu. Apa saja yang engkau perlukan, akan kauperoleh dariku!"
Mendengar kata-kata Rasul Allah s.a.w. yang demikian itu, lahirlah keberanian Ali bin Abi Thalib untuk berkata: "Maafkanlah, ya Rasul Allah. Anda tentu ingat bahwa anda telah mengambil aku dari paman anda, Abu Thalib dan bibi anda, Fatimah binti Asad, di kala aku masih kanak-kanak dan belum mengerti apa-apa.

Sesungguhnya Allah telah memberi hidayat kepadaku melalui anda juga. Dan anda, ya Rasul Allah, adalah tempat aku bernaung dan anda jugalah yang menjadi wasilahku di dunia dan akhirat. Setelah Allah membesarkan diriku dan sekarang menjadi dewasa, aku ingin berumah tangga; hidup bersama seorang isteri. Sekarang aku datang menghadap untuk melamar puteri anda, Fatimah. Ya Rasul Allah, apakah anda berkenan menyetujui dan menikahkan diriku dengan dia?"
Ummu Salmah melanjutkan kisahnya: "Saat itu kulihat wajah Rasul Allah nampak berseri-seri. Sambil tersenyum beliau berkata kepada Ali bin Abi Thalib: "Hai Ali, apakah engkau mempunyai suatu bekal maskawin?'' .
"Demi Allah", jawab Ali bin Abi Thalib dengan terus terang, "Anda sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak anda ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta."

"Tentang pedangmu itu," kata Rasul Allah s.a.w. menanggapi jawaban Ali bin Abi Thalib, "engkau tetap membutuhkannya untuk melanjutkan perjuangan di jalan Allah. Dan untamu itu engkau juga butuh untuk keperluan mengambil air bagi keluargamu dan juga engkau memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh karena itu aku hendak menikahkan engkau hanya atas dasar maskawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Hai Ali engkau wajib bergembira, sebab Allah 'Azza wajalla sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi!" Demikian versi riwayat yang diceritakan Ummu Salmah r.a.
Setelah segala-galanya siap, dengan perasaan puas dan hati gembira, dengan disaksikan oleh para sahabat, Rasul Allah s.a.w. mengucapkan kata-kata ijab kabul pernikahan puterinya: "Bahwasanya Allah s.w.t. memerintahkan aku supaya menikahkan engkau Fatimah atas dasar maskawin 400 dirham (nilai sebuah baju besi). Mudah-mudahan engkau dapat menerima hal itu."
"Ya, Rasul Allah, itu kuterima dengan baik", jawab Ali bin Abi Thalib r.a. dalam pernikahan itu.

Rumah Tangga Sederhana
Maskawin sebesar 400 dirham itu diserahkan kepada Abu Bakar r.a. untuk diatur penggunaannya. Dengan persetujuan Rasul Allah s.a.w., Abu Bakar r.a. menyerahkan 66 dirham kepada Ummu Salmah untuk "biaya pesta" perkawinan. Sisa uang itu dipergunakan untuk membeli perkakas dan peralatan rumah tangga.
-sehelai baju kasar perempuan; -sehelai kudung;-selembar kain Qathifah buatan khaibar berwarna hitam; -sebuah balai-balai;.-dua buah kasur, terbuat dari kain kasar Mesir (yang sebuah berisi ijuk kurma dan yang sebuah bulu kambing);-empat buah bantal kulit buatan Thaif (berisi daun idzkir); -kain tabir tipis terbuat dari bulu;-sebuah tikar buatan Hijr; -sebuah gilingan tepung;-sebuah ember tembaga;-kantong kulit tempat air minum; -sebuah mangkuk susu;-sebuah mangkuk air;-sebuah wadah air untuk sesuci; -sebuah kendi berwarna hijau;-sebuah kuali tembikar;-beberapa lembar kulit kambing; -sehelai 'aba-ah (semacam jubah);-dan sebuah kantong kulit tempat menyimpan air.
Sejalan dengan itu Imam Ali r.a. mempersiapkan tempat kediamannya dengan perkakas yang sederhana dan mudah didapat. Lantai rumahnya ditaburi pasir halus. Dari dinding ke dinding lain dipancangkan sebatang kayu untuk menggantungkan pakaian. Untuk duduk-duduk disediakan beberapa lembar kulit kambing dan sebuah bantal kulit berisi ijuk kurma. Itulah rumah kediaman Imam Ali r.a. yang disiapkan guna menanti kedatangan isterinya, Sitti Fatimah Azzahra r.a.

Selama satu bulan sesudah pernikahan, Sitti Fatimah r.a. masih tetap di rumahnya yang lama. Imam Ali r.a. merasa malu untuk menyatakan keinginan kepada Rasul Allah s.a.w. supaya puterinya itu diperkenankan pindah ke rumah baru. Dengan ditemani oleh salah seorang kerabatnya dari Bani Hasyim, Imam Ali r.a. menghadap Rasul Allah s.a.w. Lebih dulu mereka menemui Ummu Aiman, pembantu keluarga Nabi Muhammad s.a.w. Kepada Ummu Aiman, Imam Ali r.a. menyampaikan keinginannya.
Setelah itu, Ummu Aiman menemui Ummu Salmah r.a. guna menyampaikan apa yang menjadi keinginan Imam Ali r.a. Sesudah Ummu Salmah r.a. mendengar persoalan tersebut, ia terus pergi mendatangi isteri-isteri Nabi yang lain.
Guna membicarakan persoalan yang dibawa Ummu Salmah r.a., para isteri Nabi Muhammad s.a.w. berkumpul. Kemudian mereka bersama-sama menghadap Rasul Allah s.a.w. Ternyata beliau menyambut gembira keinginan Imam Ali r.a.

Suami-Isteri Yang Serasi
Sitti Fatimah r.a. dengan perasaan bahagia pindah ke rumah suaminya yang sangat sederhana itu. Selama ini ia telah menerima pelajaran cukup dari ayahandanya tentang apa artinya kehidupan ini. Rasul Allah s.a.w. telah mendidiknya, bahwa kemanusiaan itu adalah intisari kehidupan yang paling berharga. Ia juga telah .diajar bahwa kebahagiaan rumah-tangga yang ditegakkan di atas fondasi akhlaq utama dan nilai-nilai Islam, jauh lebih agung dan lebih mulia dibanding dengan perkakas-perkakas rumah yang serba megah dan mewah.
Imam Ali r.a. bersama isterinya hidup dengan rasa penuh kebanggaan dan kebahagiaan. Dua-duanya selalu riang dan tak pernah mengalami ketegangan. Sitti Fatimah r.a. menyadari, bahwa dirinya tidak hanya sebagai puteri kesayangan Rasul Allah s.a.w., tetapi juga isteri seorang pahlawan Islam, yang senantiasa sanggup berkorban, seorang pemegang panji-panji perjuangan Islam yang murni dan agung. Sitti Fatimah berpendirian, dirinya harus dapat menjadi tauladan. Terhadap suami ia berusaha bersikap seperti sikap ibunya (Sitti Khadijah r.a.) terhadap ayahandanya, Nabi Muhammad s.a.w.

Dua sejoli suami isteri yang mulia dan bahagia itu selalu bekerja sama dan saling bantu dalam mengurus keperluan-keperluan rumah tangga. Mereka sibuk dengan kerja keras. Sitti Fatimah r.a. menepung gandum dan memutar gilingan dengan tangan sendiri. Ia membuat roti, menyapu lantai dan mencuci. Hampir tak ada pekerjaan rumah-tangga yang tidak ditangani dengan tenaga sendiri.

Rasul Allah s.a.w. sendiri sering menyaksikan puterinya sedang bekerja bercucuran keringat. Bahkan tidak jarang beliau bersama Imam Ali r.a. ikut menyingsingkan lengan baju membantu pekerjaan Sitti Fatimah r.a.
Banyak sekali buku-buku sejarah dan riwayat yang melukiskan betapa beratnya kehidupan rumah-tangga Imam Ali r.a. Sebuah riwayat mengemukakan: Pada suatu hari Rasul Allah s.a.w. berkunjung ke tempat kediaman Sitti Fatimah r.a. Waktu itu puteri beliau sedang menggiling tepung sambil melinangkan air mata. Baju yang dikenakannya kain kasar. Menyaksikan puterinya menangis, Rasul Allah s.a.w. ikut melinangkan air mata. Tak lama kemudian beliau menghibur puterinya: "Fatimah, terimalah kepahitan dunia untuk memperoleh kenikmatan di akhirat kelak"
Riwayat lain mengatakan, bahwa pada suatu hari Rasul Allah s.a.w. datang menjenguk Sitti Fatimah r.a., tepat: pada saat ia bersama suaminya sedang bekerja menggiling tepung. Beliau terus bertanya: "Siapakah di antara kalian berdua yang akan kugantikan?"
"Fatimah! " Jawab Imam Ali r.a. Sitti Fatimah lalu berhenti diganti oleh ayahandanya menggiling tepung bersama Imam Ali r.a.
Masih banyak catatan sejarah yang melukiskan betapa beratnya penghidupan dan kehidupan rumah-tangga Imam Ali r.a. Semuanya itu hanya menggambarkan betapa besarnya kesanggupan Sitti Fatimah r.a. dalam menunaikan tugas hidupnya yang penuh bakti kepada suami, taqwa kepada Allah dan setia kepada Rasul-Nya.

Ada sebuah riwayat lain yang menuturkan betapa repotnya Sitti Fatimah r.a. sehari-hari mengurus kehidupan rumah-tangganya. Riwayat itu menyatakan sebagai berikut: Pada satu hari Rasul Allah s.a.w. bersama sejumlah sahabat berada dalam masjid menunggu kedatangan Bilal bin Rabbah, yang akan mengumandangkan adzan sebagaimana biasa dilakukan sehari-hari. Ketika Bilal terlambat datang, oleh Rasul Allah s.a.w. ditegor dan ditanya apa sebabnya. Bilal menjelaskan:
"Aku baru saja datang dari rumah Fatimah. Ia sedang menggiling tepung. Al Hasan, puteranya yang masih bayi, diletakkan dalam keadaan menangis keras. Kukatakan kepadanya "Manakah yang lebih baik, aku menolong anakmu itu, ataukah aku saja yang menggiling tepung". Ia menyahut: "Aku kasihan kepada anakku". Gilingan itu segera kuambil lalu aku menggiling gandum. Itulah yang membuatku datang terlambat!"

Mendengar keterangan Bilal itu Rasul Allah s.a.w. berkata: "Engkau mengasihani dia dan Allah mengasihani dirimu!"
Hal-hal tersebut di atas adalah sekelumit gambaran tentang kehidupan suatu keluarga suci di tengah-tengah masyarakat Islam. Kehidupan keluarga yang penuh dengan semangat gotong-royong. Selain itu kita juga memperoleh gambaran betapa sederhananya kehidupan pemimpin-pemimpin Islam pada masa itu. Itu merupakan contoh kehidupan masyarakat yang dibangun oleh Islam dengan prinsip ajaran keluhuran akhlaq. Itupun merupakan pencerminan kaidah-kaidah agama Islam, yang diletakkan untuk mengatur kehidupan rumah-tangga.

Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. dan Sitti Fatimah r.a., ketiganya merupakan tauladan bagi kehidupan seorang ayah, seorang suami dan seorang isteri di dalam Islam. Hubungan antar anggota keluarga memang seharusnya demikian erat dan serasi seperti mereka.
Tak ada tauladan hidup sederhana yang lebih indah dari tauladan yang diberikan oleh keluarga Nubuwwah itu. Padahal jika mereka mau, lebih-lebih jika Rasul Allah s.a.w. sendiri mengehendaki, kekayaan dan kemewahan apakah yang tidak akan dapat diperoleh beliau?
Tetapi sebagai seorang pemimpin yang harus menjadi tauladan, sebagai seorang yang menyerukan prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan serta persamaan, sebagai orang yang hidup menolak kemewahan duniawi, beliau hanya mengehendaki supaya ajaran-ajarannya benar-benar terpadu dengan akhlaq dan cara hidup ummatnya. Beliau mengehendaki agar tiap orang, tiap pendidik, tiap penguasa dan tiap pemimpin bekerja untuk perbaikan masyarakat. Masing-masing supaya mengajar, memimpin dan mendidik diri sendiri dengan akhlaq dan perilaku utama, sebelum mengajak orang lain. Sebab akhlaq dan perilaku yang dapat dilihat dengan nyata, mempunyai pengaruh lebih besar, lebih berkesan dan lebih membekas dari pada sekedar ucapan-ucapan dan peringatan-peringatan belaka. Dengan praktek yang nyata, ajakan yang baik akan lebih terjamin keberhasilannya.

Sebuah riwayat lagi yang berasal dari Imam Ali r.a. sendiri mengatakan: Sitti Fatimah pernah mengeluh karena tapak-tangannya menebal akibat terus-menerus memutar gilingan tepung. Ia keluar hendak bertemu Rasul Allah s.a.w. Karena tidak berhasil, ia menemui Aisyah r.a. Kepadanya diceritakan maksud kedatangannya. Ketika Rasul Allah s.a.w. datang, beliau diberitahu oleh Aisyah r.a. tentang maksud kedatangan Fatimah yang hendak minta diusahakan seorang pembantu rumah-tangga. Rasul Allah s.a.w. kemudian datang ke rumah kami. Waktu itu kami sedang siap-siap hendak tidur. Kepada kami beliau berkata: "Kuberitahukan kalian tentang sesuatu yang lebih baik daripada yang kalian minta kepadaku. Sambil berbaring ucapkanlah tasbih 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 34 kali. Itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu yang akan melayani kalian."
Sambutan Nabi Muhammad s.a.w. atas permintaan puterinya agar diberi pembantu, merupakan sebuah pelajaran penting tentang rendah-hatinya seorang pemimpin di dalam masyarakat Islam. Kepemimpinan seperti itulah yang diajarkan Rasul Allah s.a.w. dan dipraktekan dalam kehidupan konkrit oleh keluarga Imam Ali r.a. Mereka hidup setaraf dengan lapisan rakyat yang miskin dan menderita. Pemimpin-pemimpin seperti itulah dan yang hanya seperti itulah, yang akan sanggup menjadi pelopor dalam melaksanakan prinsip persamaan, kesederhanaan dan kebersihan pribadi dalam kehidupan ini.

Putera-puteri

Sitti Fatimah r.a. melahirkan dua orang putera dan dua orang puteri. Putera-puteranya bernama Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. Sedang puteri-puterinya bernama Zainab r.a. dan Ummu Kalsum r.a. Rasul Allah s.a.w. dengan gembira sekali menyambut kelahiran cucu-cucunya.
Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. mempunyai kedudukan tersendiri di dalam hati beliau. Dua orang cucunya itu beliau asuh sendiri. Kaum muslimin pada zaman hidupnya Nabi Muhammad s.a.w. menyaksikan sendiri betapa besarnya kecintaan beliau kepada Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. Beliau menganjurkan supaya orang mencintai dua "putera" beliau itu dan berpegang teguh pada pesan itu.
Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. meninggalkan jejak yang jauh jangkauannya bagi umat Islam. Al Husein r.a. gugur sebagai pahlawan syahid menghadapi penindasan dinasti Bani Umayyah. Semangatnya terus berkesinambungan, melestarikan dan membangkitkan perjuangan yang tegas dan seru di kalangan ummat Islam menghadapi kedzaliman. Semangat Al Husein r.a. merupakan kekuatan penggerak yang luar biasa dahsyatnya sepanjang sejarah.
Puteri beliau yang bernama Zainab r.a. merupakan pahlawan wanita muslim yang sangat cemerlang dan menonjol sekali peranannya, dalam pertempuran di Karbala membela Al Husein r.a. Di Karbala itulah dinasti Bani Umayyah menciptakan tragedi yang menimpa A1 Husein r.a. beserta segenap anggota keluarganya. A1 Husein r.a. gugur dan kepalanya diarak sebagai pameran keliling Kufah sampai ke Syam. Setelah hidup bersuami isteri selama kurang lebih 10 tahun Sitti Fatimah r.a. meninggal dunia dalam usia 28 tahun. Sepeninggal Sitti Fatimah r.a., Imam Ali r.a. beristerikan beberapa orang wanita lainnya lagi. Menurut catatan sejarah, hingga wafatnya Imam Ali r.a. menikah sampai 9 kali. Tentu saja menurut ketentuan-ketentuan yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. Dalam satu periode, tidak pernah lebih 4 orang isteri.
Wanita pertama yang dinikahi Imam Ali r.a. sepeninggal Siti Fatimah r.a. ialah Umamah binti Abil 'Ashiy. Ia anak perempuan iparnya sendiri, Zainab binti Muhammad s.a.w., kakak perempuan Sitti Fatimah r.a. Pernikahan dengan Umamah r.a. ini mempunyai sejarah tersendiri, yaitu untuk melaksanakan pesan Sitti Fatimah r.a. kepada suaminya sebelum ia wafat. Nampaknya pesan itu didasarkan kasih-sayang yang besar dari Umamah ra. kepada putera-puterinya.
Setelah nikah dengan Umamah r.a., Imam Ali r.a. nikah lagi dengan Khaulah binti Ja'far bin Qeis. Berturut-turut kemudian Laila binti Mas'ud bin Khalid, Ummul Banin binti Hazzan bin Khalid dan Ummu Walad. Isteri Imam Ali r.a. yang keenam patut disebut secara khusus, karena ia tidak lain adalah Asma binti Umais, sahabat terdekat Sitti Fatimah r.a. Asma inilah yang mendampingi Sitti Fatimah r.a. dengan setia dan melayaninya dengan penuh kasih-sayang hingga detik-detik terakhir hayatnya.
Isteri-isteri Imam Ali r.a. yang ke-7, ke-8 dan ke-9 ialah As-Shuhba, Ummu Sa'id binti 'Urwah bin Mas'ud dan Muhayah binti Imruil Qeis. Dari 9 isteri, di luar Sitti Fatimah r.a., Imam Ali r.a. mempunyai banyak anak. Jumlahnya yang pasti masih menjadi perselisihan pendapat di kalangan para penulis sejarah.
Al Mas'udiy dalam bukunya "Murujudz Dzahab" menyebut putera-puteri Imam Ali r.a. semuanya berjumlah 25 orang. Sedangkan dalam buku "Almufid Fil Irsyad" dikatakan 27 orang anak. Ibnu Sa'ad dalam bukunya yang terkenal, "Thabaqat", menyebutnya 31 orang anak, dengan perincian: 14 orang anak lelaki dan 17 orang anak perempuan. Ini termasuk putera-puteri Imam Ali r.a. dari isterinya yang pertama.

Sumber: Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a. Karya Al-Hamid Al-Husaini

KISAH PERNIKAHAN IMAM ALI DENGAN SAYYIDAH FATHIMAH as


Biografi Sayyidah Fatimah as





Nama: Fatimah 
Julukan Mashur: Az-Zahra 
Kunyah (panggilan) Mashur: Ummu Abiha 
Nama Ayah: Muhammad bin Abdullah 
Nama Ibu: Sayyidah Khadijah 
Tangggal Lahir: Jumat, 20 Jumadits Tsani dua tahun setelah diutusnya Nabi saw 
Tanggal Pernikahan: 1 atau 6 Dzulhijjah 2 Hijriyah 
Nama Suami: Ali bin Abi Thalib as 
Nama Anak-anak: Imam Hasan, Imam Husain, Sayyidah Zainab dan Ummu Kultsum as 
Tanggal Wafat: 75 hari setelah wafatnya Rasul saw di tahun 11 Hijriyah 
Makam: Kemungkinan di Baqi` 
Para ulama besar Syiah seperti Kulaini, Thabarsi dan Ibnu Syahr Asyub dalam kitab Kafi, A`lamul Waro dan Manaqib berpendapat bahwa Sayyidah Fatimah as lahir lima tahun setelah bi`tsah. Allamah Majlisi dalam Biharul Anwar, jilid 43, halaman 19 menukil semua pendapat ini. Syaikh Thusi dalam kitab Misbahul Mutahajjid berkata bahwa beliau lahir dua tahun setelah bi`tsah.
Para ulama Sunni berpendapat bahwa beliau lahir lima tahun sebelum bi`tsah. Namun, pendapat ini tidak sesuai dengan penolakan Nabi saw terhadap para pelamar dengan alasan usia putrinya yang masih kecil. Karena, bila lima tahun sebelum bi`tsah ditambah dengan 13 tahun risalah Nabi saw di Makkah, berarti ketika menikah di Madinah, Sayyidah Fatimah berusia di atas 18 tahun.

Pancaran Sinar Muhammad

Kisah pernikahan Imam Ali as dan Sayyidah Fatimah as penuh dengan keindahan seperti kisah perkawinan Rasul saw dan Sayyidah Khadijah as. Ini adalah kisah pernikahan antara dua cahaya dan pernikahan yang penuh dengan berkah samawi. Setelah sekian abad, semua orang, bahkan non-Muslim, mengenal dua pribadi agung ini dan keutamaan mereka. Mungkin tidak perlu lagi kami sebutkan kisah kelahiran mereka. Riwayat dari Imam Shadiq as yang telah kami sebutkan di akhir kisah perkawinan Rasul saw dan Sayyidah Khadijah as cukup untuk menjelaskan kedudukan mereka. Tiga tahun setelah peristiwa mi`raj Nabi saw, pada tanggal 20 Jumadits Tsani tahun kelima bi`tsah, ibunda para imam suci lahir dan cahayanya memenuhi bumi hingga langit. Para penghuni langit pun bersukaria menyambut kelahiran bayi mulia ini. Nama-nama putri Nabi saw dan penjelasan maknanya akan menghabiskan berlembar-lembar kertas. Para sejarawan, sesuai dengan kemampuan mereka, telah menuliskan nama-nama putri Nabi saw dalam karya-karya mereka. Kitab-kitab seperti Biharul Anwar dipenuhi oleh cahaya nama-nama Fatimah as. Sayyid Abdur Razzaq Muqram dalam makalahnya menulis makna nama-nama Sayyidah Fatimah as dengan bersandarkan riwayat para imam ahlul bait. Salah satunya adalah riwayat dari Imam Shadiq as: "Fatimah as mempunyai sembilan nama di sisi Allah SWT: Fatimah, Shiddiqah, Mubarokah, Thahirah, Zakiyah, Radhiyah, Mardhiyah, Muhaddatsah dan Az-Zahra`..."1 Tidak ada satupun dari nama-nama ini yang tak memiliki makna yang dalam. Kita dapat mencari makna nama-nama ini di kitab-kitab para ulama. Supaya buku ini mendapatkan cahaya, akan kami sebutkan mengapa beliau dinamakan Az-Zahra. Imam Shadiq as berkata: "Ia dinamakan Az-Zahra karena ia bersinar tiga kali dalam sehari bagi Amirul Mukminin as; di waktu Shubuh ketika orang-orang tidur, cahaya putih menyebar dan memasuki rumah-rumah kaum Muslim. Mereka keheranan melihat hal ini dan bertanya kepada Nabi saw. Beliau lalu menyuruh mereka pergi ke rumah Fatimah as. Ketika mereka pergi ke rumahnya, mereka melihat Fatimah as sedang shalat dan cahaya memancar dari wajahnya. Mereka mengerti bahwa cahaya yang menyinari rumah mereka adalah cahaya Fatimah. Di tengah hari, ketika Fatimah bersiap untuk shalat, wajah mulianya memancarkan cahaya kuning yang menyebar ke rumah penduduk Madinah hingga membuat wajah dan pakaian mereka berwarna kuning. Mereka datang menghadap Nabi saw dan menceritakan apa yang mereka lihat. Beliau lalu menyuruh mereka perrgi ke rumah putrinya. Sampai di sana, mereka melihat Fatimah sedang shalat di mihrabnya dan cahaya kuning memancar dari wajahnya. Mereka sadar bahwa cahaya yang mereka lihat adalah cahaya Fatimah as. Ketika matahari tenggelam, dikarenakan kegembiraannya dan rasa syukurnya kepada Allah, wajahnya memerah bercahaya. Cahaya wajahnya kembali menyebar ke seluruh penjuru Madinah dan membuat halaman-halaman rumah penduduk Madinah bercahaya. Mereka kembali datang menemui Nabi saw dan menanyakan sebabnya. Beliau kembali menyuruh mereka pergi ke rumah Fatimah as. Di sana, mereka menyaksikan Fatimah sedang bertasbih dan wajahnya memerah bercahaya. Cahaya ini selalu memancar dari wajahnya sampai ia melahirkan Husain as dan berpindah kepadanya. Cahaya itu akan tetap memancar dari wajah-wajah kami ahlul bait sampai hari kiamat.2 Ketika Sayyidah Fatimah as lahir, semua saudara perempuannya telah menikah. Namun, suami-suami mereka tidak memperlakukan mereka sebagaimana mestinya. Hanya Abul Ash bin Rabi`, keponakan Sayyidah Khadijah, menantu yang layak bagi Nabi saw. Tapi, karena ia tetap dalam keadaan musyrik sampai penaklukan Makkah, ia menyebabkan berbagai kesulitan bagi Zainab putri Nabi seperti yang telah disebutkan oleh para sejarawan. Saudarinya yang lain, Ummu Kultsum meninggal di tahun tujuh atau sembilan Hijriyah. Ya, Fatimah putri Nabi saw yang paling kecil menyaksikan kematian saudari-saudarinya yang menggantikan kedudukan ibunya. Ia harus mengisi tempat kosong saudari-saudarinya setelah mereka meninggal. Dengan kondisi ini, putri Khadijah yang dipanggil ayahnya dengan sebutan Ummu Abiha ini, bisa dipastikan sangat disayang oleh ayahnnya. Apabila dalam situasi tertentu di Makkah dan Madinah, Nabi saw memberikan putri-putrinya kepada Abul Ash dan Utsman, maka berkaitan dengan Fatimah, Allah dan Nabi-lah yang mengambil keputusan. Mungkin Allah berkehendak untuk menghilangkan kesedihan Nabi saw dengan memilihkan menantu yang sesuai bagi putrinya. Para pembesar Quraisy menghasut Abul Ash dan Utbah bin Abu Lahab untuk menceraikan putri-putri Nabi saw (Zainab dan Ruqayyah) hingga beliau akan menemui kesulitan dalam menghidupi putri-putrinya. Namun, Abul Ash tidak menghiraukan hasutan mereka dan tetap setia kepada istrinya. Kesetiaannya ini kelak membuahkan keimanannya dan ia mempunyai seorang putri bernama Amamah yang kelak diperistri oleh Imam Ali as. Adapun anak Abu Lahab, ia menceraikan istrinya atas hasutan para musyrikin Quraisy. Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad3 menulis: "Ibnu Abbas berkata: Aku dan ayahku sedang duduk bersama Rasul saw ketika Ali as masuk dan mengucapkan salam. Rasul saw menjawab salamnya dan menampakkan kegembiraannya atas kedatangan Ali as. Beliau bangkit dari duduknya, memeluk Ali dan mencium antara dua matanya lalu mendudukkannya di sampingnya. Ayahku berkata, "Wahai Rasulullah, apakah engkau mencintai Ali?" Beliau menjawab," Wahai paman, demi Allah, Dia lebih mencintai Ali dibanding diriku, karena Dia menjadikan keturunan setiap nabi dalam sulbi mereka, namun Ia menjadikan keturunanku dalam sulbi Ali (karena Fatimah as hanya putri beliau yang masih hidup dan semua putra beliau telah meninggal). " Kandungan riwayat ini dinukil oleh : 1. Kharazmi dalam Manaqib, halaman 229.2. Muhibbuddin Thabari dalam Dzakhairul Uqba.3. Humawaini dalam Faraidus Simtain.4. Dzahabi dalam Mizanul I`tidal.5. Ibnu Hajar dalam Showaiqul Muhriqoh. 6. Muttaqi Hindi dalam Muntakhab Kanzul Ummal. 7. Qanduzi dalam Yanabiul Mawaddah.4 Tsalabi saat menafsirkan ayat ke-4 surat At-Tahrim berkata bahwa yang dimaksud dengan sholihul mukminin adalah Ali bin Abi Thalib as.5 

1. Pernikahan Imam Ali as dengan Sayyidah Fatimah as

Pernikahan antara dua manusia suci ini berlangsung pada tahun kedua Hijriyah.6 Semua syarat pernikahan putri Nabi saw telah terpenuhi. Banyak orang yang berniat mengambil Fatimah as sebagai istrinya dan menjadikannya sebagai bagian dari keutamaan mereka. Dengan berbagai cara, mereka ungkapkan keinginan mereka kepada Nabi saw. Abu Bakar dan Umar mengedepankan persahabatan mereka dengan Nabi saw dan menyebutkan keutamaan mereka untuk mengambil hati beliau. Namun, Nabi saw menolak lamaran mereka. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa setelah lamaran mereka ditolak Nabi saw, mereka datang menemui Imam Ali as dan mendorong beliau untuk melamar Fatimah as. Dalam riwayat lain dikatakan bahwa yang mendorong Imam Ali as untuk melamar putri Nabi saw adalah Sa'ad bin Muadz.7 Riwayat lain menyebutkan bahwa Nabi saw sendiri yang menanyakan kepada Imam Ali as tentang niatnya untuk menikah dengan Sayyidah Fatimah as dan menjelaskan tugas yang diembannya dari Jibril as untuk menikahkannya dengan putrinya. Namun, dalam riwayat lain, demikian disebutkan: Imam Ali as pergi sendiri menghadap Nabi saw untuk melamar Fatimah as. Ia sangat malu untuk mengutarakan niatnya hingga Nabi saw dengan raut muka gembira bertanya kepadanya, "Untuk apa kau datang? Sepertinya kau datang untuk melamar Fatimah?""Benar wahai Rasulullah!" "Sebelum kau, banyak orang telah datang kepadaku dengan niat sama. Tapi setiap kali aku berunding dengan Fatimah, ia tidak menjawab lamaran mereka. Aku pun ridha dengan apa yang diridhai olehnya. Tunggulah sebentar supaya aku memberitahu Fatimah tentang niatmu." Nabi saw datang menemui putrinya dan berkata kepadanya, "Anakku, Ali anak pamanku datang melamarmu. Dia bukan orang asing bagimu dan kau sudah tahu keutamaannya. Ia ingin menjadikanmu sebagai istrinya. Apa pendapatmu?" "Wahai Rasulullah, engkau lebih berhak untuk memberi pendapat." "Anakku, sesunguhnya Allah telah mengizinkanmu menikah dengannya." Sambil tersenyum gembira, Fatimah berkata, "Aku ridha dengan apa yang diridahi oleh Allah dan Rasul-Nya." (Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Fatimah as berkata, "Aku rela Allah sebagai Tuhanku dan ayahku sebagai Nabiku dan putra pamanku sebagai suamiku.")8 Nabi saw lalu datang menemui Ali as dan mengabarkan persetujuan putrinya. Beliau bertanya, "Wahai Ali, putriku setuju untuk menikah denganmu. Mahar apa yang hendak kau berikan kepadanya?" "Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Rasulullah, engkau sendiri tahu keadaan hidupku. Semua hartaku hanyalah sebilah pedang, baju besi dan seekor unta."10 "Wahai Ali, pedangmu akan kau gunakan untuk berjihad dan untamu akan kau gunakan untuk mengambil air dan mengangkut barang. Karena itu, juallah baju besimu." Imam Ali as lalu pergi menjual baju besi yang merupakan ghanimah dari perang Badar seharga 380 atau 500 Dirham11 dan menyerahkan uangnya kepada Nabi saw. Beliau membaginya menjadi tiga bagian: 1. Sepertiga untuk membeli perlengkapan rumah. 2. Sepertiga untuk minyak wangi. 3. Sisanya beliau serahkan kepada Ummu Salamah sebagai amanat. Menjelang malam pernikahan, beliau menghadiahkannya kepada Imam Ali as hingga ia bisa menyiapkan walimah pernikahan. (Sahabat-sahabat Imam Ali as pun memberi bantuan kepada beliau untuk acara walimah seperti yang disebutkan oleh Abul Futuh Ar-Razi dalam tafsirnya jilid 14, halaman 261). Nabi saw menyuruh sebagian sahabatnya untuk menyiapkan perlengkapan rumah putri tercintanya. Ada beberapa versi tentang nama-nama para sahabat yang disuruh Nabi saw untuk membeli perkakas rumah Fatimah as. Mungkin beliau menyerahkan urusan alat-alat rumah kepada ahlinya. Misalnya, nama Ummu Aiman12 disebutkan dalam riwayat-riwayat ini. Abu Bakar, Ammar Yasir, Bilal Habsyi dan Salman Al-Farisi pergi ke pasar untuk menyiapkan perlengkapan rumah bagi dua kekasih Nabi saw ini. Sebagian sejarawan menyebutkan bahwa Miqdad nin Aswad Al-Kindi juga termasuk para sahabat yang menyiapkan perkakas rumah Ali as. Sebagian yang lain tidak menyebutkan nama mereka. Alhasil, para sahabat melaksanakan tugas mereka dan membawa barang-barang yang mereka beli kepada Nabi saw. Beliau membolak-balikkan barang-barang itu dan bersabda, "Semoga Allah memberkati penghuni rumah ini." Atau beliau bersabda, "Ya Allah, berkatilah kaum yang sebagian besar barang mereka terbuat dari tanah liat." Mereka yang sebelumnya datang melamar Fatimah dan ditolak oleh Nabi saw, kembali datang menemui beliau dan berkata, "Kenapa Anda menikahkan Fatimah dengan Ali dengan mahar sedikit." Beliau menjawab, "Bukan aku yang menikahkan mereka. Tapi Allah-lah yang menikahkan mereka di malam mi`raj di dekat Shidratul Muntaha. Aku manusia seperti kalian. Aku menikah dengan wanita di antara kalian dan aku nikahkan putriku dengan kalian. Tapi, aku tidak dapat mengambil keputusan berkaitan dengan Fatimah, karena perintah pernikahannya datang dari langit." Banyak orang yang memiliki pikiran Jahiliyah Pada waktu itu, tanpa melihat kelayakan-kelayakan menantu Nabi saw, para wanita Quraisy mencela Fatimah karena ia menikah dengan lelaki miskin. Fatimah as datang menghadap Nabi saw sambil menangis dan mengadukan ucapan mereka kepada ayahnya. Beliau bersabda, "Wahai Fatimah, apakah kau tidak ridha aku nikahkan kau dengan orang yang lebih dahulu masuk Islam, paling berilmu dan paling bijak?" Fatimah menjawab, "Aku ridha dengan apa yang diridhai Allah dan rasulnya."13 Barangkali Fatimah as tidak mengetahui lamaran Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan yang datang melamarnya dengan motivasi tertentu. Anas bin Malik berkata, "Suatu hari, Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan yang lebih terkenal di antara sahabat, datang ke rumah Rasulullah saw. Abdurrahman berkata kepada beliau, "Wahai Nabi, nikahkanlah putrimu denganku! Aku akan memberinya mahar seratus unta hitam bermata biru dan semuanya adalah unta Mesir yang sedang hamil. Selain itu, aku akan tambahkan sepuluh ribu Dinar." Utsman berkata, "Akupun siap memberi sejumlah itu. Lagi pula, aku lebih dahulu masuk Islam ketimbang Abdurrahman." Tapi Rasulullah saw menolak lamaran mereka. Kekuasaan tidak akan kekal bagi siapapunTidak bagi Kaisar dan tidak bagi Kisra2

Perkakas rumah Sayyidah Fatimah as

1. Sebuah kasur dengan seprai dari katun yang berisi bulu domba. 
2. Taplak dari kulit kambing.
3. Sebuah kasur lain yang dibungkus katun dan berisikan pelepah kurma. 
4. Sehelai tikar Hajari (Hajar adalah sebuah desa dekat Madinah yang-penduduknya bekerja sebagai pembuat tikar).
5. Sehelai tikar Qithri (sejenis tikar lembut yang terbuat dari bambu).
6. Sehelai permadani.
7. Dua sandaran bantal berlapis kapas hitam yang diisi dengan pelepah kurma dan dua bantal. 
8. Tirai dari wol.
9. Sebuah wadah dari tembaga untuk mencuci pakaian, mangkuk besar dan mangkuk dari kayu untuk susu.
10. Selimut hitam dari Khaibar dan sebuah jubah buatan Khaibar dan ranjang yang dibuat dari kullit pohon kurma.
11. Kantung besar air yang terbuat dari kulit kerbau untuk menyimpaan air dan sebuah kendi.
12. Sebuah penggiling gandum dan saringan.
13. Handuk, sapu tangan dan minyak wangi.
14. Pakaian dan baju hangat.
15. Cadar dan kerudung.
16. Timba dari kulit untuk mengmabil air dari sumur.
17. Kendi untuk bersuci.
18. Gantungan baju. 

Rasulullah saw telah menyediakan segala hal yang diperlukan oleh kedua mempelai untuk memulai hidup baru. Meski semua peralatan ini sangat sederhana dan bersahaja, tapi bukan berarti tidak memiliki nilai. Tentunya, dari sisi materi, ia tidak bisa dibandingkan dengan peralatan rumah para pengantin Quraisy zaman itu. Yang pasti, prinsip keadilan dan penghematan harus dijaga di setiap masa, karena kanaah adalah kerajaan yang abadi dan ketamakan adalah kefakiran yang kekal. 

Mahar Spiritual Sayyidah Fatimah as

Semua yang telah kita sebutkan tentang perkakas rumah Az-Zahra, tidak berperan dalam keridhaan putri Nabi saw ini. Ia selalu memandang jauh ke depan dan seperti ayahnya, ia pun menaruh iba terhadap para pendosa umat ayahnya. Ahmad bin Yusuf dalam kitab Akhbarud Duwal wa Atsarul Awwal menulis:Diriwayatkan bahwa ketika Nabi saw menikahkannya dengan Ali as dan menentukan maharnya, ia berkata, "Wahai Rasulullah, semua wanita bersuami dan menentukan kadar mahar nikah mereka. Lalu, apa perbedaan mereka denganku?Aku ingin kau kembalikan maharku kepada Ali dan kau mohonkan kepada Allah supaya Ia menjadikan syafaatku bagi umatmu sebagai mahar nikahku." Jibril as lalu turun sambil membawa sehelai kertas sutra yang bertuliskan: "Allah telah menjadikan syafaat Fatimah bagi umat ayahnya sebagai mahar nikahnya." Oleh karena itu, menjelang wafatnya, Sayyidah Fatimah as berwasiat untuk meletakkan kertas ini dalam kafannya. Ketika wasiatnya dilaksanakan, beliau berkata, "Di hari kiamat, aku akan memegang kertas ini dan memberikan syafaat kepada orang-orang yang berdosa dari umat ayahku." 

Khotbah Nikah

Di hadapan para penduduk Madinah dan para pembesar Quraisy, setelah memanjatkan puja dan puji kepada Allah SWT, Rasulullah saw membaca akad nikah dan berkata, "Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku untuk menikahkan putriku Fatimah as dengan saudaraku dan anak pamanku Ali bin Abi Thalib..." Kemudian beliau duduk dan berkata kepada Ali as, "Wahai Ali, bangkit dan bacalah khotbah nikahmu." Ali menjawab, "Wahai Rasulullah, bagaimana aku berkhotbah di hadapanmu?" Beliau menjawab, "Jibril memerintahkanku untuk meyuruhmu membaca khotbah nikah." Ali as lalu berdiri dan setelah memuji Allah dan mengucapkan salam atas Rasul saw, beliau mengakhiri khotbahnnya dengan berkata, "Menikah adalah hal yang diperintahkan Allah dan diizinkan oleh-Nya. Majlis ini adalah majlis yang dilangsungkan atas perintah-Nya dan diridhai oleh-Nya. Sekarang ini, Muhammad bin Abdullah telah menikahkan putrinya Fatimah denganku dengan mahar empat ratus Dinar. Saksikanlah bahwa aku rela dengan akad ini. Mintalah kalian kesaksian dari Rasulullah!" Hadirin lalu menanyakan kesaksian Rasulullah saw. Beliau mengiyakan ucapan Ali as dan menyebutnya sebagai menantu yang pantas. Para hadirin lalu mengucapkan selamat kepada Ali as. Majlis pernikahan itu diakhiri dengan jamuan kurma.14 


1 Biharul Anwar, jilid 43, hal. 10-14. 
2 Maqolatuz Zahra, hal. 248-250. 
3 Jilid 1, hal. 316. 
4 Fatimatuz Zahra Minal Mahdi Ilal Lahd, menukil dari Tarikh Baghdad, jilid 1, hal. 316. 
5 Ihqoqul Haq, jilid 3, hal. 311, Biharul Anwar, jilid 36, hal. 30, Manaqib Ibnu Mughazali 216. 
6 Ada enam pendapt sehubungan dengan hari, bulan dan tahun pernikahan Sayidah Fatimah as. Paling sedikit usia beliau yang ditulis oleh sejarawan adalah sembilan tahun dan paling banyak adalah dua puluh lima tahun. 
7 Saad bin Muadz bin Numan Khazraji Anshari, pembesar kabilah Aus. Ia syahid dalam perang Khaibar. 
8 Nahjul Hayat, hal. 28-29 menukil dari berbagai sumber. Dalam Biharul Anwar, jilid 43, hal. 31 disebutkan bahwa diamnya Fatimah adalah tanda persetujuannya. 
9 Orang yang mengetahui kondisi Muslimin di masa awal Islam akan mengakui bahwa kehidupan Imam Ali as hingga hari pernikahannya tidak lebih baik dari ini. Di samping itu, semenjak beliau menikah hingga Nabi saw wafat, kaum Muslim disibukkan oleh perang, seperti Badar hingga Hunain. Di zaman dua puluh lima tahun pemerintahan para khalifah, beliau sibuk bertani dan berkebun. Dalam masa kekhalifahannya pun, beliau tetap bekerja dan tidak menggunakan haknya dari Baitul Mal. Beliau pernah berkata,"Aku ingat masa-masa ketika aku bersama Rasulullah saw dimaan beliau mengikat batu di perut untuk menahan lapar. Tapi, sekarang sedekah hartaku mencapai empat puluh Dinar tiap tahun." Beliaupun berkata,"Sedekah dari hartaku cukup untuk semua fakir Bani Hasyim." Ibnu Thawus dalam kitab Kasyful Mahajjah menukil bahwa Ali as berkata,"Ketika aku menikah dengan Fatimah as, aku tidak memiliki alas tidur. Tapi sekarang, sedekah hartaku cukup untuk semua Bani Hasyim."(Malekiyat-e Khusus-e Zamin, Ayatullah Miyanaji, yang menukil dari riwayat Sunnah-Syiah).
10 Asqalani dalam kitab Al-Ishabah, hal. 365 berkata,"Nabi saw menghadiahkan baju besi ini kepada Ali bin Abi Thalib dalam perang Badar. Baju besi ini disebut Khatmiyyah, karena setiap pedang yang mengenainya akan patah." Ada beberapa riwayat dalam hal penjualan baju besi ini. 
11 Ummu Aiman adalah pembantu wanita dari Habsyah yang dibebaskan oleh Abdullah ayah Nabi saw. Pada masa-masa awal Islam, ia telah beriman kepada Nabi saw dan berhijrah ke Habsyah dan Madinah. Nabi saw bersabda, "Setelah ibuku, Ummu Aiman adalah ibuku." Beliau selalu mengunjungi Ummu Aiman di rumahnya. Setelah wafatnya Aminah, dialah yang merawat Nabi saw. Anaknya, Aiman bin Ubaid Khazraji, saudara seibu Usamah bin Zaid, syahid dalam perang Hunain. Ummu Aiman meninggal lima bulan setelah wafatnya Nabi saw. 
12 Tafsir Abul Futuh Al-Razi, jilid 14 hal, 244, Nahjul Hayat, hal. 32 menukil dari 77 sumber hadis dan sejarah Syiah dan Sunni. 
13 Kaisar: sebutan bagi Raja Romawi. Kisra: sebutan bagi Raja Persia.
14 Biharul Anwar, jilid 23, hal. 63, Tafsir Abul Futuh Ar-Razi, jilid 14, hal. 256-257, Nahjul Khitobah, Ayatullah Alamul Huda, No. 11 dan 12.